
Tim Pengabdian Poliwangi bersama pengrajin bata Desa Pakistaji usai kegiatan sosialisasi dan praktik BERATON-CLC.
BANYUWANGI – Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) terus memperkuat peran pendidikan vokasi dalam menghadirkan solusi terapan bagi masyarakat. Melalui program pemberdayaan pengrajin bata di Desa Pakistaji, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, tim dosen dan mahasiswa Poliwangi menerapkan teknologi BERATON-CLC (Cellular Lightweight Concrete), yaitu bata ringan interlocking yang dikembangkan dengan memanfaatkan limbah pertanian berupa jerami padi dan abu sekam padi.
Kegiatan sosialisasi dan pendampingan dilaksanakan pada Rabu, 19 Agustus 2026 di rumah produksi mitra Desa Pakistaji. Program ini diketuai oleh Dora Melati Nurita Sandi, S.T., M.T., dengan anggota Ir. Zulis Erwanto, S.T., M.T. dan Nurul Alfiyah, S.E., M.Akun., serta melibatkan mahasiswa Poliwangi. Kolaborasi Teknik Sipil dan Agribisnis tersebut dirancang agar pengembangan produk tidak hanya menyentuh aspek teknis, tetapi juga pengelolaan usaha dan keberlanjutan pemasaran.
Sebanyak 11 peserta mengikuti rangkaian sosialisasi, demonstrasi, dan praktik produksi secara langsung. Mitra diperkenalkan pada prinsip CLC, penggunaan sistem interlocking, persiapan material, pembentukan foam, pencampuran, pencetakan, perawatan, hingga pengendalian mutu sederhana. Model learning by doing dipilih agar pengrajin dapat memahami teknologi melalui proses kerja yang dekat dengan pengalaman produksi sehari-hari.

Pengrajin mengikuti praktik pencampuran material dan foam pada proses produksi BERATON-CLC.
Penerapan teknologi ini juga diarahkan untuk membangun kebiasaan produksi yang lebih terukur. Tim memperkenalkan penakaran bahan, pencatatan per batch, penggunaan cetakan baja interlocking, serta prinsip Quality Control (QC) agar setiap perubahan formula dan proses dapat ditelusuri. BERATON-CLC masih diposisikan sebagai produk dalam tahap pengembangan, sehingga formula yang digunakan belum dinyatakan sebagai komposisi optimum dan tetap memerlukan verifikasi mutu secara bertahap.
Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan respons positif dari peserta. Rata-rata skor pemahaman meningkat dari 51,18 pada pre-test menjadi 86,18 pada post-test. Peningkatan paling kuat terjadi pada aspek keterampilan produksi dan pengetahuan produk. Hasil tersebut menunjukkan bahwa demonstrasi dan praktik langsung efektif membantu mitra memahami proses BERATON-CLC, sementara materi manajemen usaha dan pemasaran masih membutuhkan pendampingan berkelanjutan.

Tim dan mitra melakukan pengaturan cetakan baja interlocking sebagai bagian dari penerapan teknologi tepat guna.
Selain peningkatan kapasitas mitra, tim juga melakukan kajian mutu awal sebagai umpan balik pengembangan produk. Evaluasi menunjukkan bahwa perubahan komposisi abu sekam padi memberikan respons berbeda terhadap sifat fisik dan mekanik, sedangkan BERATON-CLC berbasis jerami 8% telah diuji pada tingkat panel dinding sebagai evaluasi aplikatif awal. Hasil tersebut digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki homogenitas campuran, kestabilan foam, curing, presisi bentuk interlocking, dan konsistensi pemasangan sebelum produk diarahkan pada produksi rutin.
Dari sisi usaha, pengembangan BERATON-CLC diarahkan secara bertahap melalui produksi pilot dan berbasis pesanan. Pendekatan ini penting agar pengrajin dapat menjaga mutu, mengendalikan biaya dan produk gagal, sekaligus menguji penerimaan pasar sebelum meningkatkan kapasitas produksi. Program juga mendorong pemanfaatan jerami dan abu sekam padi sebagai bahan bernilai tambah sehingga potensi sektor pertanian dapat terhubung dengan kebutuhan inovasi material konstruksi lokal.

Pendampingan langsung proses produksi BERATON-CLC di rumah produksi mitra Desa Pakistaji.
Kegiatan ini dilaksanakan melalui pendanaan Skema Pemberdayaan Masyarakat (PM) yang bersumber dari PNBP Politeknik Negeri Banyuwangi Tahun 2026. Ke depan, pendampingan akan diarahkan pada konsistensi penerapan SOP dan QC, optimasi formula, pengujian kuat tekan unit BERATON-CLC berbasis jerami, serta penguatan pencatatan usaha dan strategi pemasaran.
Melalui program tersebut, Poliwangi menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan vokasi yang berdampak melalui inovasi terapan, pemberdayaan masyarakat, dan pemanfaatan potensi lokal Banyuwangi secara berkelanjutan.